|
Written by Administrator
|
|
sesaat marmotji ternganga..bukan karena melihat ujung paha mulus tersingkap..tapi sejenis itu barangkali. Melihat upaya memancing sahwat diumbar sekenanya...
melihat derik pintu besar diayun-ayun, ditarik-tarik, lontaran kata-kata tak sopan terpapar begitu kencang menerpa telinga...
air liur menetes pun tak terasa, mendengar betapa alasan kemarahan itu hanyalah sebuah isu krisis energi...
mengapa harus marah ? mengapa harus gedor-gedor, dan mengapa pula harus merasa terpengaruh. Ndak bisa beli, ya udah, ndak usah beli, kog merepotkan diri banget sih...bukan sok acuh seh, tapi ini kepasrahan yang diperlukan.
Marahlah pada kesendirian aja...
kenapa tidak jengah pada kebodohan diri sendiri, sehingga marah membabi-buta belajar kesana-kemari ?
kenapa tidak sebel pada ketidakmampuan diri sendiri mencari pemecahan masalah yang mendadak timbul di depan ?
kenapa juga harus marah pada orang lain yang mengumbar aurat di depan diri, sementara ternyata aurat tubuh sendiri sudah terpasang tinggi di baliho, di banyak pinggiran jalan ?
Belajar Marahlah pada diri sendiri Lecutlah diri sendiri untuk mampu kalah.. Jangan pernah mengalah pada diri sendiri... Masa depan sendiri bukan masa depan sekumpulan manusia marah... Belajarlah marah...Marahlah pada belajar...sudahkah benar caranya. Sehingga tahu kapan marahnya..bukan asal marah-marah pada hasilnya..
Disaat marah, aurat terpampang... caci-maki aurat terpajang... Disaat marah, pajangan aurat harganya mahal tapi nista...
Belajarlah Marah yang Benar ! marah tak pernah jadi haq !
Mata merah saat marah, tanda nyalang kepengecutan Napas ngos-ngosan menahan marah, sebenarnya hanya luapan ketakutan tak bisa marah lagi.
Marah pada apa pun, tak berarti apa-apa, kecuali memang sudah tak berharga
Marah adalah puncak kepasrahan yang tetap tegak di tempat berdiri tapi marah bukanlah sebuah peperangan cuman sekadar letupan magma dipermukaan pantat
Maka marahlah... jika marah ada sebuah sentakan tapi marahlah..bila ternyata tak bisa menghentak kebenaran jadi kebenaran
Malulah jika tak bisa marah.. dan belajarlah jadi marah... tanpa marah, tak ada pembelajaran yang berhasil Hanya marah yang belajar-lah, yang bakal dapat hasilnya.
maka, marahlah...dengan benar. |
|
Written by Administrator
|
|
Judul artikel sesungguhnya adalah, Membangun Pemerintahan Yang Kuat
Judul diatas selama ini selalu dipersepsikan berada dalam domain kaum akademisi FISIPOL dan politisi, tetapi setelah melihat kenyataan 20 tahun terakhir, saya berubah cara pikir.
Dalam benak saya sekarang, bila masih ada yang berani berpikir ala makan roti bundar besar, yang diiris menjadi beberapa bagian. jangan-jangan masih hidup di jaman tentara berperang gunakan pedang dan tameng.
Tidak sedang mempersalahkan siapa pun dan tak ingin menimpakan biang penyebab pada satu masalah saja, namun saya ingin menunjukkan betapa keliru selalu menganggap kecil, bermakna tak berdaya dan pemerintahan selalu berarti kuat.
Berdongeng Di masa kecil, saya sering dipaksa masuk dalam lelap, dengan terlebih dahulu mengunyah dongeng. Dari yang ringan-ringan penuh tawa dan tebakan hingga yang berat-berat, sehingga sang pendongeng harus mengulangi epos yang sama keesokan malam. Saat itu, saya cukup terkagum-kagum, berapa banyak cerita dongeng yang menjadi hapalan. Jauh sebelum mengenal cerita dunia perwayangan. Tentu tak paham pula apa makna karakter, kerangka cerita dan pesan yang tersimpan didalamnya. Yang ada hanya kesan, dongeng itu luar biasa, bisa membungkam hingga bertemu dunia mimpi.
Setelah beranjak usia sekolah, dan mengenal pewayangan, kekaguman sudah melintasi wilayah, bagaimana cara sang dalang menghafal berbagai karakter, skenario/kerangka cerita dan bagaimana mentautkan setiap fragmen cerita. Bahkan seolah meneropong dengan satu biji mata melihat Ramayana dan yang lain tertuju pada Superman, saya makin berdecak, bagaimana cara sang penyusun cerita dapat peroleh ide lalu menyajikannya.
Namun setelah masa-masa itu jauh terlewatkan hingga dewasa, ternyata saya terkagum-kagum pada Al Khalik, bagaimana drama milyaran manusia di bumi bulat ini bisa menjadi epos yang tak bisa diwakili dengan nukilan satu kisah saja.
Dasar Dongeng ! Ternyata banyak sumber cerita, banyak ide, banyak nuansa, tapi ternyata kisah-kisah yang tersebar dari mulut ke mulut itu tetap saja tak pernah tertuliskan alias tak tercatat.
Mana ada prestasi, mana pula reputasi. Pokoknya ingin begini, ya sudah dibikin begini saja. Begitu juga sebaliknya, begini dibegitukan, atau sudah gitu dibeginikan.
Bukan Dongeng Prestasi memang perlu dicatatkan, tetapi masalah yang dihadapi lebih perlu dicatat jauh sangat menuntut kecermatan. Masih banyak keraguan pada kelengkapan data, juga validasinya. Bahkan bukan saja pada tingkat kepercayaan pada lembaga penerbit data, tetapi juga sumber daya manusia yang sulit dikenali kemampuannya secara transparan.
Catatan-catatan yang seharusnya rapi dituliskan dan disimpan dalam kerangka pendataan yang rapi masih jauh dari kenyataan. Tekanan budaya yang tabu mencatat kegagalan, karena dianggap bisa sebagai aib orang lain, menyebabkan kegagalan menjejaki dan mengenali seberapa cepat dan luas efek dari sebuah kebijakan.
Pemerintahan Sebuah tatanan masyarakat yang teratur, dan damai sebenarnya bukanlah mimpi, hanya harus diakui, justru membutuhkan pemimpi yang piawai.
Keteraturan dalam masyarakat, membutuhkan pelindung sebagai penyedia rasa aman. Keterlindungan masyarakat bukan saja secara raga namun juga nurani. Keteraturan yang dinamis dalam masyarakat, membutuhkan inspirator yang terus menerus menemukan hal baru sebagai sarana kemakmuran.
Kalaulah yang dapat mewujudkan dan menjawab kebutuhan-kebutuhan tersebut adalah lembaga yang disebut pemerintahan, maka sebenarnya pemerintahan bukanlah sarang kebijakan semu.
Pemerintahan juga bukan tempat keputusan diambil dengan berbagai pertimbangan yang melindungi dan memberdayakan. Mengapa bisa memerintah ? Karena dianggap bisa menegakkan aturan-aturan yang telah mengakar.
Kekuatan pemerintahan adalah pada banyaknya informasi yang dimiliki, dan bila tak punya hingga pada kadar cukup, apalagi yang akan digunakan sebagai ukuran ?
Sumber Bacaan :
1.Kompas.Com
2.Blognya Sijey
3.Republika Online
4.Total.or.id
5.Milis Ohio State |
|
|
Written by Administrator
|
|
Fenomena menarik saat ada sebuah ajakan bergabung untuk menolak kehadiran seseorang tampil di pentas politik Indonesia. Saya bilang menarik, bukan saja pada hitungan jumlah orang yang bergabung, tetapi juga pada kalimat-kalimat yang ditulis mereka. Entah sekedar ekspresi ketidaksukaan hingga muak, bakalan menarik jika sekaligus melihat latar belakangnya. Siapakah mereka ? mayoritas adalah orang-orang yang tidak melibatkan diri pada semua kegiatan kampanye politik yang telah berakhir kemaren. Banyak sisi yang dapat ditilik, tetapi saya lebih tertarik pada bagaimana sikap antipati ini muncul pada pribadi bersangkutan. Ternyata bukan antipati politik, tapi justru antipati sosial, urusan siapBebalisme...a bapak, siapa anak. Juga urusan bagaimana gaya bicara/orasi yang bersangkutan. Tidak banyak urusan politik yang dikomentari, walau yang bersangkutan menginginkan kaitan politik. Modal kekaguman pada pribadi orang tua, atau filosofi politik yang diikuti ternyata bukanlah sebuah acuan, minimal dari situasi fenomena ajakan tersebut. Yang perlu dilihat dari situasi politik saat ini adalah walau berimbas besar pada situasi lainnya, tetapi bukan berarti akan mampu memberikan ketertarikan atau simpati pada sebuah 'ideologi'; terutama jika sangat suka menggunakan kata konstituen atau kata kesejahteraan. Seorang pemimpin tetaplah seorang manusia biasa, yang pasti memiliki kelemahan manusiawi, yang tidak akan mampu menghindar sedikit pun, kecuali dengan pertolonganNya. Arogansi yang bersangkutan justru mengundang antipati, terutama setelah banyak cerita yang beredar yang berasal dari para mantan orang-orang dekatnya, yang kini memilih posisi berseberangan. Lepas benar atau tidaknya cerita itu, namun rasanya bersesuaian dengan gaya orasi yang bersangkutan. Kasihan juga melihat antipati ini, karena tidak ada keburukan atau kebaikan yang terus menerus menempel, yang ada adalah naik-turunnya sebuah sifat. Maka dari itu pelajaran yang muncul adalah tetaplah istiqomah untuk menjalani tuntunan. Terus belajar agar tetap beriman, karena disanalah tuntunan terbaik berasal. |
|
Written by Administrator
|
|
Barangkali kalimat-kalimat begini jamak terdengar... Cari yang haram saja, kog nyari yang halal... Mbedain barang haram hari gini sama susahnya misahin lombok ma pedesnya... Emangnya gampang jadi malaekat, jadi iblis aja banyak saingan Tenang aja bro, neraka lagi renovasi, gak usah takut dosa...
Yah, seandainya kata-kata yang tertangkap kuping marmotji dapat ditulis semua, berapa banyak yang sepakat ?
Rasa berdosa seolah sama dengan rasa malu, padahal beda banget..sama aja dengan kesandung kerikil dan kesandung jambu busuk.
Apa beda kini kamar sal rumahsakit jiwa dan rumah tahanan ? apa beda kini kemewahan kamar tidur di rumah dan rumah bordil ? apa beda kini kejujuran naif, transaparansi dan sindikat mata-mata ?
Absurd ah...
Seorang kepala litbang lembaga negara pendidikan nasional dengan bangga nyatakan, ujian tahun ini ada peningkatan kualitas dibanding tahun lalu. Rata-rata tahun ini adalah 7.20, sementara tahun lalu adalah 7.16.. hah ? itu yang kaya fasilitas dibandingin yang miskin ? yang makan sehari sekali dibandingin ma yang terkenyang-kenyang ? Mana pantas ?
sementara para pejabat itu senang sekali mematut-matut dalam sangkar betonnya, merangkai berbagai program yang entah sebenarnya untuk siapa dalam mimpinya. Para rakyat sibuk berebut galah menggapai uang receh yang sudah diatur jumlah edarnya.
Sementara yang lain masih juga berteriak-teriak serak, atas nama rakyat katanya. Walau telah banyak bukti, membungkamnya cukup masuk dalam sangkar beton dan berkedudukan.
Tak penting kualitas, tak penting manfaat. Makna keterbukaan adalah terbukanya aurat dan awrat...
yah..hanya karena alasan itu, alasan perut pula, nama tuhan dikukus dalam simbol. Busana, perlambang, warna, bahkan dimasukkan kedalam bentuk-bentuk yang tak mungkin selain tuhan bisa bikin. Pokoknya keliatan beragama, pokoknya tahu dalil, pokoknya kan tahu, ini kan jaman informasi. Geblek banget gak tahu apa-apa, urusan peribadatan itu mah urusan lobby masing-masing pribadi...
Huh..Dasar Bebal... masak bebal tak boleh berbaju rapi ? masak bebal tak boleh pandai ? masak bebal tak bisa nalar ? Bebal bukan otak tempat, tapi hati...
sama halnya dengan berbagai jabatan Jampidsus, Jamdatun, jamtangan, jamdinding, atau jamputsuh ...? apa bedanya ? |
|